January 20, 2013

[FF] [A-Plus Part 5] Cause I'm Your Best Friend and You're My Best Friend


Author: Salsabila Khansa (@_skhansa)
Main Cast
  • Taeyeon (SNSD), 
  • Jessica (SNSD), 
  • CL (2NE1), 
  • Mir (MBLAQ), 
  • Dongwoon (B2ST),
  • Seohyun (SNSD), 
  • Nana (After School), 
  • Key (SHINee), 
  • Amber (f(x))
Minor Cast: KahiLeeteuk (SuJu), Park Bom (2NE1)
Couple: TaengSic, KeyBer, TaeTeuk, MirNa 
Length: Friendship, Romance
Author message: Poster baru loh. Semoga suka ceritanya. Bagi penggemar TaengSic wajib baca nih. Para readers yang suka RCL juseyo!! Kalau ngga bisa langsung komen di sini, bisa ngirimin aku pesan lewat FB atau Twitter. Aku bener-bener pengen tahu gimana respon orang sama tulisanku. Jadi please RCL ya!
Summary:




**A-Plus**

Nana POV

Sudah hampir sebulan kami tinggal di sini. Setiap hari tanpa stop kami berlatih menari, menyanyi, rap, memainkan instrumen, serta berlatih sedikit akting serta presenting juga. Tentu saja lelah. Tubuh kami serasa lelah, dan tulang kami juga serasa akan patah semua karena rutinitas lari pagi serta menari yang kami lakukan setiap hari.

Jari-jari tanganku bahkan menjadi jelek karena harus memainkan gitar dan instrumen lainnya. Bahkan aku sempat kehilangan suaraku sangking kerasnya berlatih menyanyi.

Sekarang tanggal 24 Desember, kami hanya berlatih menyanyi dan menari untuk beberapa jam. Setelah itu kami diberi toleransi karena malam ini adalah malam natal.

Aku melihat jam diruang tengah. Jam 6 sore. Semua sedang sibuk melakukan sesuatu. Kahi ssaem, Bom ssaem, Taeyeon unnie, dan Seohyun sedang memasak di dapur. Sepertinya kita akan mempunyai banyak makanan enak malam ini fikirku.

Aku memeriksa kamar kami. Jessica unnie sedang tertidur pulas di ranjangnnya. Dia terlihat sangat lelah.

Aku pun berjalan melewati ruang latihan dan melihat CL, Mir, dan Dongwoon sedang mengobrol dengan sedikit bercanda. Aku baru akan bergabung dengan mereka ketika aku mendengar suara dari luar rumah.

Amber dan Key sedang duduk berdua di dekat perapian di luar rumah. Mereka mengobrol tidak memedulikan apa pun disekitarnya. Key mengalungkan lengannya di bahu Amber sesekali mencubit pipi Amber. Ah~ irinya aku.

“Yak! Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyaku lalu duduk di samping Amber.

“Memanfaatkan kesempatan.” jawab Key enteng.

“Hah?” pandangku bertanya-tanya maksud dari ucapan Key.

“Sudah hampir satu bulan aku tidak bisa mengobrol sesantai ini bersama Amber. Jadi kami memanfaatkannya. Kau sendiri apa yang kau lakukan? Bekerliaran sendiri di rumah?”

Aku tidak menjawab.

“Yak! Nana kau ini sudah dewasa. Kenapa tidak mencari pacar? Jangan hanya sibuk mengurusi pemotretanmu saja.”

Aku memonyongkan sedikit mulutku. “Aku tahu. Lagipula banyak kok namja yang menyukaiku hanya aku saja yang menolak mereka.”

“Ngomong-ngomong Nana, Myungsoo menghubungiku beberapa minggu yang lalu.”

“Mau apa lagi dia?”

“Myungsoo itu siapa oppa?” tanya Amber.

“First lovenya.” Key menunjuk diriku menggunakan telunjuknya. “Dia masih peduli denganmu Nana. Saat aku bertemu dengannya dia pasti selalu menanyakanmu terlebih dahulu.”

Tidak peduli! Aku meninggalkan Key dan Amber tanpa mengatakan apa-apa. Pergi ke kamar. Berbaring di ranjangku tepat di bawah ranjang Amber.

**A-Plus**

Author POV

Jam sudah menunjukan pukul 7. Semua makanan sudah tertata rapih di meja makan. Satu per satu mulau berkumpul di meja makan siap mengisi perut mereka yang kosong.

“Sebelum makan mari kita berdoa dulu dan berterima kasih pada Tuhan.”

Semua menundukan kepalanya dan menyatukan kedua telapak tangannya. Berdoa dalam hati.

“Selesai.” ucap Leeteuk.

“Selamat makan!” ucap mereka serentak.

**A-Plus**

Setelah menyelesaikan makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga berbagi kebahagiaan malam natal bersama.

Kebahagiaan makin terasa ketika musik mulai dinyalakan dan mereka mulai menari. Awalnya musik dengan beat sangat cepat terdengar, tapi makin lama lagu menjadi lebih slow. Lagu slow yang sangat lembut dan romantis terdengar.

Key mengajak Amber ke tengah. Salah satu tangan Key berada di pinggul Amber dan satunya memegang tangan Amber.

Hal itu pun mulai diikuti yang lainnya.

Dongwoon mengajak Seohyun berdansa dan Seohyun menanggapinya dengan anggukan. Mereka pun mulai melakukan hal yang sama dengan Key dan Amber.

Mir menetapkan hatinya kemudian memberanikan dirinya mengajak Nana untuk berdansa. “Mau berdansa?” Mir menawarkan tanganya. Sesaat Nana menatap Mir heran, tidak menyangkan bahwa Mir akan mengajaknya ke lantai dansa. Tapi untuk sesaat kemudian Nana tersenyum dan menyambut tangan Mir.

Taeyeon POV

Aku melihat teman-temanku berdansa. Mereka melakukannya dengan baik. Aku menoleh ke kiri dan kanan. “Dimana Sica?” gumamku sambil terus mengedarkan pandanganku ke sana kemari tapi tetap tidak ada.

Aku baru hendak melangkahkan kakiku untuk mencari Sica tapi seseorang lebih dulu menahan pergelangan tanganku.

“Mau berdansa?” tanyanya. Dapat kurasakan jantungku mulai berdetak lebih cepat dan membuat pipiku memerah.

Seorang Leeteuk ssaem sekarang berdiri di depanku sambil tersenyum dan mengajakku berdansa. It’s really dream come true! Aku langsung mengangguk, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tangannya memegang tanganku, jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Entah kenapa, rasanya begitu pas, tangan kami begitu pas. Sebelah tangannya memegang pinggulku membuat pipiku kembali memerah.

Aku tidak peduli dengan musiknya sekarang, organku yang lain rasanya tidak ingin berfungsi, rasanya semua tenaga dari organku berkumpul di mataku. Tidak ingin berkedip, ingin terus melihatnya tersenyum padaku seperti ini, tidak ingin melepaskan tangannya. Bisakah waktu berhenti dan membiarkan kami terus seperti ini?

Musik berhenti, Leeteuk ssaem pun menghentikan langkahnya, aku pun begitu. Rasa kecewa menyusup memasuki hatiku. Rasanya baru sebentar kami berdansa dan sekarang kami harus terpisah.

Kami duduk di sofa menyesap segelas wine, karena sudah lelah menari kami memutuskan untuk berbincang-bincang. Mir membuat sedikit lelucon yang membuat suasana makin membahagiakan.
Setelah menyesap sedikit wine, aku meletakannya kembali di meja dan melihat segelas wine masih utuh. Dan kemudian aku ingat bahwa Sica tidak ada bersama kami.

“Aku ke kamar sebentar.” pamitku.

**A-Plus**

Jessica POV

Aku menghentikan tubuhku menari karena sudah lelah. Musik pun melambat. Aku melihat Key dan Amber mulai berdansa berpasangan. Karena ingin mencari udara segar aku memutuskan pergi.

Aku pergi ke ruang latihan yang sepi. Yang membatasi ruangan ini dengan alam luar hanyalah sebuah kaca, jadi aku bisa melihat ke luar. Salju turun dengan indahnya. Aku mengeratkan jaketku karena mulai merasa kedinginan.

Aku merogoh kantong jaketku dan mengeluarkan ponselku. Aku menatap layar ponselku. Foto itu tiba-tiba muncul. Foto orang itu, wajah itu, senyum itu membangkitkan semua kenangan yang telah ku simpan rapih. Kenangan manis juga kenangan pahit.

“Bodoh, kenapa aku masih menyimpan foto ini” gumamku.

Aku menarik nafasku dan mencoba untuk menahan air mataku agar tidak keluar. Kenapa dia? Kenapa kau memilih dia? Hampir saja. Semua hampir terjadi, aku hampir memilikimu tapi kenapa...

Kakiku lemas, aku pun jatuh terduduk di lantai. Aku sudah mencoba menahannya untuk waktu yang lama tapi kali ini aku terlalu lemah untuk menahannya lagi. Rasa sakit di dadaku muncul kembali seiring dengan munculnya kenangan akan dirinya. Air mataku pun jatuh lagi, mengalir begitu deras.

Aku kembali menatap salju yang jatuh tanpa beban apa pun, tapi itu menambah sakit di dadaku. Tahukah kau bahwa selama empat tahun ini aku selalu menderita ketika melihat salju turun? Tahukah kau kalau aku menderita dan tidak bisa merasakan kebahagiaan natal selama empat tahun ini?

Ini semua karena kau bodoh! Karena aku selalu mengingatmu! Aku iri pada salju yang tidak mempunyai beban dan bisa jatuh menyentuh tanah dengan mudahnya, aku iri melihat orang-orang merayakan natal bersama seorang yang dia cintai. Aku iri!

Itu semua tidak akan terjadi kalau kau masih bersamaku. Kenapa kau tega menyiksaku sih? Kau sangat jahat!

Aku kembali terisak. Aku membekap mulutku dengan kedua tanganku. Aku membekapnya dengan keras karena tidak ingin orang lain mendengar teriakan menyedihkanku ini. Dadaku terasa sakit sekali serasa ingin mati saja.

**A-Plus**

Taeyeon POV

Aku pergi ke kamar kami karena ku fikir Sica pasti sedang tidur, tapi nyatanya tidak ada. Kemana anak itu? Aku mengintip ke luar jendela, tapi dia tidak di luar. Malam natal seperti ini seharusnya dia bersenang-senang bersama kami bukannya kabur entah kemana.

Aku makin khawatir saat tidak menemukannya dimana pun. Kamar mandi, ruang makan, dapur. Aku tidak menemukannya dimana-mana. Aku baru memutuskan memberitahu yang lain ketika aku mendengar suara isakan dari ruang latihan. Aku mengintip dan menemukan Sica terduduk di lantai sedang membekap mulutnya. Dia sedang berteriak tapi berusaha agar orang-orang tidak mendengarnya dengan cara membekap mulutnya. Bahunya bergetar hebat.

Aku mendekatinya dan memgang bahunya yang begetar. Aku duduk disampingnya. “Sica gwenchana? Ada apa denganmu?”

Dapat kulihat air mata bercucuran dengan deras dari matanya. “T..ta..taeye..on ah.” ucapnya terbata-bata.

“Gwenchana?” tanyaku lagi. Spontan aku memeluknya dengan erat. “Sica kenapa kau seperti ini?’

Sebuah pemikiran terlintas di kepalaku. Aku melepas pelukanku, menatap Sica. “Karena dia? Apa karena dia lagi? Sica-ya.”

“Appa! Nae maeumi neomu appayo, Taeyeon-ah.” ucap Sica ditengah-tengah isakannya.

Aku memeluknya kali ini menunggu sampai isakannya mereda. Selalu seperti ini! Menangis dengan keras sendiri sampai aku menemukannya. Ini sudah empat tahun Sica, dan selalu saja seperti ini, kau bisa mencariku Sica, kau bisa memintaku menemanimu menangis. Kapan pun itu aku siap. Sica-ya aku ini sudah menjadi temanmu selama tujuh tahun. Aku juga sakit setiap melihatmu seperti ini selama empat tahun. Jangan seperti ini terus Sica. Kau mempunyai ku.

Aku mengelus punggungnya. Isakannya pun perlahan mereda aku pun melepaskan pelukanku. Aku duduk di sampingnya membiarkannya menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku memegang tangannya.

“Gomawo.” ucapnya. Aku hanya mengangguk.

“Jangan seperti ini lagi, jangan menangis sendiri lagi. Araso?”

Dia mengangguk. “Mianhe.” 

“Kenapa mengingatnya lagi? Kukira kau sudah berhasil melupakannya.”

Jessica memberikan ponselnya padaku, menunjukan sebuah foto di ponsel itu. “Aku lupa menghapusnya.” ucapnya polos.

“Bodoh!”

“Aku tahu.” Sica menunjuk salju yang sedang berjatuhan. “Salju juga mengingatkannya padaku. Ada banyak hal yang bisa mengingatkannya padaku.”

“Maka dari itu kau lemah.”

Sica mengangguk.

Kami terdiam beberapa saat.

“Taenggoo kenapa kau selalu menemukanku ketika aku menangis.”

“Karena aku adalah sahabatmu dan kau adalah sahabatku.”

Jessica tersenyum. “Kau tahu aku sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu waktu SMA.”

“Benarkah? Kenapa?”

“Karena kau satu-satunya yang berani mendekati ice princess lebih dulu. Kau satu-satunya yang memperkenalkan dirimu pada seorang ice princess sepertiku.”

“Terima kasih sudah menyukaiku.”

“Tapi aku juga membencimu.”

Aku membulatkan mataku menatapnya bertanya-tanya. “Apa aku pernah berbuat salah padamu?”

Dia mengangkat kepalanya dan menggeleng. “Anyo. Aku membencimu bukan karena kau berbuat salah tapi karena aku iri. Aku iri karena orang-orang terus mengatakan suaramu lebih bagus dariku.”

“Karena itu? Heol~” ucapku.

“Aku tahu itu benar-benar kekanak-kanakan. Tapi aku benar-benar iri.” ucapnya. “Tapi setiap mencoba menjauhimu dan membencimu aku tidak bisa. Karena...”

“Karena apa?”

“Karena hanya Taenggoo yang tahu aku dengan sangat baik. Karena Taenggoo yang selalu berada di sisiku ketika aku menangis. Karena Taenggoo adalah sahabatku dan aku adalah sahabat Taenggoo. Karena kita adalah...”

“Taengsic shidae!” ucap kami kompak lalu tertawa bersama.

**TBC**

Semoga suka readers ^^

No comments:

Post a Comment